Mohon Maaf apabila apa yang saya tampilkan dalam keadaan apa adanya saya usahakan tampil sederhana demi perubahan yang sederhana. Maka saya memulainya dengan cara sederhana

Senandung Cinta Di Pulau Timor

siapakah gerangan yang merajut senja diujung cinta untuk rembulan masa lalu yang melintasi musim yang terus gerganti melewati garis-garis tangan dipangkuan pertiwi sebelum kita sampai juga pada kesejukan yang selalu memberi kami kehausan dari gelas para pecinta.

Akhir Sebuah Perjalanan

Beningnya air matamu itu kini menjadi telaga kesedihan dalam hatiku yang terluka

Untuk Sebuah Nama

Seperti rintik hujan yang masih membekas diremangnya air danau batur,seperti itu pula sakitku yang masih terasa.

Kita Pernah Begitu Dekat

Perasaan cinta yang kita renda saban hari,Akhirnya gugur perlahan namun pasti sarupa daun kering yang berserakan disepanjang jalan adisucipto.

Beta Anak Kupang

Nikmatilah pemandangan indah pada malam hari di sepanjang trotoar jalan El Tari Kupang sambil makan jagung bakar diiringi lagu Bae Sonde Bae Tanah Timor Lebe Bae.

Tentang Kau dan Aku

Setetes air mata ini tak mau aku jadikan alasan agar engkau tetap ada di sampingku.

Catatan Pak Tani

Sekiranya kita takan menjadi buta ketika melihat kesalahan orang lain namun berada dalam terang saat melihat kesalahan diri.

Kamis, 11 November 2021

Senandung Rinduku Untukmu Ayah

Ayah........kapan-kapan datanglah, dan bawa aku mengitari bumi tempat dimana para leluhur mengukir cinta dan pengorbanan yang terpahat pada dinding kenangan. Nanti kalau ayah datang janganlah ayah murung melihatku, karena tanah pijak para leluhur sudah tak seindah waktu itu.

Ayah.....dihamparan sawah buah tanganmu itu, disana kita bersama menjaring senja yang merambat cerita hingga menyentak mimpiku yang tersandar pada kenangan bahkan tersimpan sejuta impian melintasi samudera dengan perahu harapan menuju pulau impian. 

Ayah....ditepi sisi pematang sawah kau tuturkan cinta para leluhur yang begitu manis ketika berucap lantunan syair pemuja di jantung tanah tandus. 

Katamu...kini engkau telah lelah dan engkau membutuhkan sebuah perahu membawa takdir untuk berlayar menuju senja yang tersebutkan segala rasa yang membungkusi hikayat bara sehari bersama sujud luruh dalam pujipuja.

Dan Sebagai suguhan terakhir dari darimu, ayah...kini masih jelas teringiang ditelingaku  Nasehatmu terucap dengan makna yang tak kupahami. Meskipun demikian aku harus bisa berbesar hati untuk mengiklaskan.  

Ayah....Aku tak mau membungkus luka lalu yang indah saja yang aku suguhkan padamu. Tapi ayahpun  harus tahu kalau diperjalanan kita dimusim lalu tak cukup bagiku untuk mendengar canda tawa dan semua cinta kasihmu padaku. Ayah....Aku sangat merindukanmu.

Ayah....
Nanti kalau sempat, datanglah padaku. Lihatlah aku yang terlihat begitu asing. Itu bukan karena apa-apa, tetapi biarlah aku sendiri yang tahu kalau kertaspun tak sanggup menulis api sejarah yang lahir di rahim malam. Bahkan dedaunanpun turut berdo’a dibalik kesunyian malam, menanti getah kerinduan yang ada di atap rumah sang pujaan yang terdiam di jiwa oleh suka dan kesumat cinta. 
Disini aku renungkan siapakah gerangan yang melempar duka pada setiap luka yang terus menhujam diladang jiwa seakan tak ada lagi kesejukan dibalik bukit itu.

Ayah.....Memang lukaku ini bukan lagi dukamu, tapi engkaupun tahu kalau kesumat rindu terus membara membakar jiwa kami anak-anakmu yang selalu berharap disuatu waktu nanti disaat saat aku terbangun di pagi hari, engkau selalu ada disampingku dan membisikan Nasehatmu, walaupun hanya sepatah kata, kuingin mendengarnya lagi.

Aku  masih tetap berharap kalau engkau akan datang kepadaku, meskipun itu hanyalah sejauh mimpi bahkan disuatu kehidupan lain sekalipun, ayah dapat menemukan jalan pulang dan kembali kepadaku,. menyapaku, bercerita tentang leluhur kita dan aku mendapatkan kembali cinta ku yang hilang.

Meskipun demikian setetes air mata ini, tak mau aku jadikan alasan agar engkau tetap ada di sampingku,...karena aku tahu ayah adalah yang terhebat dalam hidupku.

Selamat Hari Ayah untukmu dialam Sang Pemilik Jiwa. 

 

Jumat, 03 September 2021

Hujan Kemarin

Tatkala rinai gerimis menjejaki coklatnya tanah mengisyaratkn takaran warna dalam kisah perjalanan mengumpulkan kilauan embun, dari padang tandus, taman kepedihan dan tinggi gunung harapan.

Dari taman mimpi terbawa arus terseret badai gelombang masa lalu

Ketika semua insan mengagumi gelombang cintamu,  kau tempatkn aku pada kegetiran hatimu.
Aku bukanlah laut yg pasang surut
bukan pula ombak yg menerjang semua penghalang
Benar juga katamu kalau aku hanyalah serpihan karang yg tumbang dalam bimbang.

Dari taman mimpi pulau harapan, kuberceloteh senandung rindu  meski telah kutahu hujan kemarin telah mnghapus jejakku dihatimu.
Tiada lagi mutiara peluluh rindu
Lalu sepotong hati bertanya
Apakah aku harus menghancurkan Masa Kini sambil MENGKHAWATIRKAN Masa Depan, lalu MENANGIS di Masa Depan dengan Mengingat Masa lalu..?

Selasa, 05 Maret 2019

Pengobatan dari Sorgawi

Hati-hati dengan KUMAN (Kurang Iman) dan KUTU (Kurang Bersekutu) karena akan menyebabkan timbulnya KUDIS (Kurang Disiplin) dan GATAL (Gagal Total) dalam hidup kita.
Obati segera dan hubungi spesialisnya yaitu Prof. Dr. YESUS KRISTUS, Sp. Pd (Spesialis Pengampunan Dosa).
Segera hubungi 333 (Yeremia 33:3) dan fax di 5015 (Mazmur 50:15) dan jangan lupa bila kita sudah sembuh hubungi 1032 (Mazmur 103:2).

Klinik pengobatan YESUS KRISTUS melayani pengobatan:
1. Menyembuhkan luka batin.
2. Menghilangkan kebencian dan kepahitan hati.
3. Membuat hati nyaman dan penuh cinta kasih dan pengampunan.
4. Mampu membuat kita berkarya bagi ALLAH dan sesama.

Datang dan buktikan sekarang juga.
Alamat praktek: Jalan Sorga, Kelurahan Cinta Kasih, Kecamatan Damai Sejahtera, Kota Sorgawi

Selasa, 27 November 2018

SENANDUNG CINTA DI PULAU TIMOR


Kawan........kapan-kapan datanglah ketempat asalku, dan akan ku bawa dirimu mengitari bumi tempat dimana para leluhurku mengukir cinta dan pengorbanan pada dinding kenangan yang bersemayam dari reruntuhan musim.
Kalau engkau datang janganlah menolak ketika kusuguhkan padamu  sirih pinang yang kami namakan snack herbal sebagai pembuka kata, pemanis bibir pertanda ungkapan selamat datang ditanah moyangku. Ijinkan aku untuk bisa manjakan rasamu dalam tatapan kering matahari telanjang di pelataran bumi Nusa Cendana, lalu kita mengalir seirama air Oenesu dan Oehala yang dicampurkan dalam seduhan gelas minuman sopi diiringi kicau burung bersahutan.
        Kawan.....dihamparan pasir putih pantai Tablolong disana kita bersama menjaring senja yang merambat cerita kita menyentak mimpi yang tersandar pada kenangan dan di pesisir pantai Teres juga akan tersimpan sejuta impian melintasi samudera dengan perahu harapan menuju pulau impian. 
Pantai Kolbano
Kawan.....ditepi pantai Kolbano akan kau temukan batu tiga warna dan sesekali akan kau lihat juga segerombolan hiu putih bermain ombak. Dan Nanti akan ku puaskan dahagamu dengan secawan Sopi yang kami sebut Tua Nakaf Insana juga sepiring Bose  dan Se’i ditambah dengan Luat. lalu biar penatmu terusir oleh Gerombolan Buaya putih, atau sekumpulan kelelawar juga rusa putih dan dapat pula kau bawa pulang segumpal garam dari asinnya air laut Menifon pantai selatan. 
Gunung Lakaan
Kawan....Disini juga akan kuperkenalkan dirimu pada Dewa Dewi Cinta di puncak Gunung Mutis dan Gunung Lakaan juga kepada para leluhur ku yang begitu manis ketika berucap lantunan syair pemuja di jantung tanah tandus rumahku. Biarlah kita berhenti sejenak sambil menikmati Keindahan Lembah Fulan Fehan yang Eksotis. Sesekali akan kau lihat kawanan kuda yang bebas berkeliaran, pohon kaktus yang tumbuh subur dan hamparan padang sabana yang memanjakan rasa. Kawan....kalau nanti engkau letih biarlah kita melepas dahaga dengan secangkir susu dari Kolam Susu. Maaf kawan ini hanyalah kolam yang menginspirasi lagu Kolam Susu group musik Koes Plus. Memang kami punya kolam yang memang tampak putih seperti susu tapi sayang susu terlampau mahal untuk kami beli. 
Benteng Ranu Hitu
Kawan...ku ingin juga memperkenalkan padamu tentang sebuah tempat dimana lahirnya suatu pengorbanan leluhur kami. Mungkin terdengar begitu ekstrim ditelingamu, tapi semua itu akan terusir ketika bunyi tambur yang diiringi para gadis sambil menari likurai, tebe dan bonet disepanjang jalan menuruni rumah-rumah adat menuju tempat puja dan puji bagi leluhur kami di Benteng Ranu Hitu atau Benteng Lapis Tujuh di puncak Bukit Makes. Disitulah para leluhur kami mengukir kisah perjuangan. Disanalah akan kau lihat barisan Bukit Batu Mandemu peninggalan bersejarah  yang nampak tegar berdiri cadas karang seakan menjadi simbol ketegaran hati kami di tanah kering rumah kami. 
Teluk Gurita
Kawan, jika rasamu tak lagi bersahabat, biarlah kita menggapai senja di Teluk Gurita yang saat ini menjadi sebuah dermaga sambil menghayal tentang kokohnya sebuah ikatan persahatan antara kau dan aku. Namun jika hatimu masih bisa merengkuh perjalanan ini, mari kita lanjutkan perjalanan menuju Pantai Wemasa.  Pantai berpasir hitam yang mungkin tidak indah tapi perjalanan itu tetaplah indah, sebab yang indah tidaklah tempat tapi dari sisi mana kita melihatnya. Dari dekat akan kau lihat sekumpulan bocah menjajakan jasa sebagai penarik perahu bagi mereka yang hendak turun melaut.
Kawan...Mungkin juga kita membutuhkan sebuah perahu membawa takdir untuk berlayar menuju senja yang tersebutkan segala rasa, yang membungkusi hikayat bara sehari bersama sujud luruh dalam pujipuja. Sebagai suguhan terakhir dari perjalanan kita nanti, akan kubawa dirimu pada sebuah perkampungan tua yang kami sebut perkampungan Suku Boti. Menurut Pieter Middelkoop menyebut kami (People Of The Dry Land) atau Atoni Pah Meto kurang lebih yang berarti: penduduk, orang atau manusia-dari tanah kering. Disana akan kau pelajari bagaimana kita belajar mencintai alam dan masih banyak keunikan yang akan kau dapati disana.

Kawan....Aku tak mau membungkus luka lalu yang indah saja yang aku suguhkan padamu. Tapi engkaupun harus tahu diperjalanan kita nanti akan kau temukan lubang-lubang jalanan yang menganga dan gubuk-gubuk tua yang hanya diterangi lentera sepanjang yang kau kira. Tapi itu belum cukup kawan....Nanti kalau sempat, di tapal batas akan kau lihat pula betapa asingnya anak dinegeri Nusantara. Itu bukan karena mereka tak punya apa-apa, atau mereka tak punya cukup makan bahkan bukan pula mereka tak mau untuk melangkah pergi, tetapi kertaspun tak sanggup menulis api sejarah yang lahir di rahim malam. Bahkan dedaunanpun turut  berdo’a dibalik kesunyian malam, menanti getah kerinduan yang ada di atap rumah sang pujaan yang terdiam di jiwa oleh suka dan kesumat cinta. Disini akan kau renungkan siapakah gerangan yang merajut senja diujung cinta untuk rembulan masa lalu yang melintasi musim yang terus gerganti melewati garis-garis tangan dipangkuan pertiwi sebelum kita sampai juga pada kesejukan yang selalu memberi kami kehausan dari gelas para pecinta. 
Suku Boti

Kawan.....tak heran kalau nantinya engkau merasa bosan dengan jauhnya jalan yang penuh belubang dan gelapnya malam tanpa listrik ataupun hanya sedikit air pelepas dahaga, karena memang itu saja yang ada padaku. Nanti akan kau lihat juga sekumpulan anak gembala yang kembali mengiring ternak menuruni bukit bebatuan, sesekali akan kau dengar lantunan syair-syair lagu kebangsaan. Jelas tertangkap sepotong lirik merdeka, merdeka....memang mereka tak paham apa sesunggunya arti dari sepenggal kata itu, yang pastinya seolah melempar duka pada setiap luka yang terus menhujam diladang jiwa seakan tak ada lagi kesejukan dibalik bukit itu.
Desa Noepesu_TTU
Kalau ada yang bilang sumber air sudah dekat, itu memang benar, kalau hanya sedekat berucap kata. Dan kalau masih ada  yang bilang  jalan ditanahku sudah terlihat bagus, itu memang benar kalau hanya sebagus mata memandang. jika ada lagi yang bilang terangnya listrik menembusi kegelapan malam di setiap deretan rumah-rumah kami, memang benar, kalau itu hanyalah terang-terangan.
Kawan...itu belum seberapa yang akan kau lihat. Karena aku tak mau nanti engkau tak mau datang lagi didaerahku. 
Sebenarnya aku ingin membawamu melihat rumah-rumah sekolah kami biar engkau tahu betapa nasib tak berpihak, namun cukupkanlah hatimu dengan beberapa saja. Tapi janganlah kawan mengira bahwa kami tak bisa bersaing dalam dunia ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Nanti engkau akan mendengar dan melihat sendiri kehebatan kami bersaing didaerahmu.
          Kawan.... kalau nanti engkau akan kembali kekotamu, akan kuberikan padamu sepotong kayu kering yang tak wangi lagi. Maafkan aku kawan....Seandainya engkau datang lebih awal, mungkin kau akan dapati wanginya kayu kering itu, namun sangat disayangkan kalau semua itu hanya tinggal kisah dari cerita tua. Sebuah hikayat tentang kokohnya tanah moyangku yang dipenuhi dengan dengan wewangian kayu cendana yang 
Pohon Cendana
melegenda sampai pelosok bumi, sampai begitu banyak orang mendatangi tanah kami untuk melakukan perdagangan yang hanya meninggalkan luka tak terperih. Maaf kawan...karena diperjalanan kita tak lagi kau temukan jajaran pohon cendana seperti sebuah naskah catatan perjalanan yang ditulis oleh Wang Da Yuan yang berjudul Daoyi Chi Lue pada 1350 yang menyebutkan bahwa di wilayah Timor tidak tumbuh pohon lainnya selain Pohon cendana. 
         Kawan.....Memang luka kami bukan dukamu, tapi perlu engkaupun tahu bahwa kesumat cinta terus membara membakar jiwa kami anak-anak dinegeri Nusa cendana dan aku berharap suatu saat ketika engkau datang lagi, dapat kau bawa pulang wanginya cendana dalam sejumput senyum diwajahmu. Selamat jalan kawan. dan jika sampai dikotamu nanti, kumohon janganlah engkau menceritakan yang indah yang pernah engkau temui ditanah kami tapi ceritakan saja sedanya selama kita masih bersama.
Teriring salam Sapu Rata dari kami Atoin Pah Meto di TIMOR

Kamis, 25 Januari 2018

Beta Rindu Mati Lu

Kalo sa beta sonde parnah kanal sa lu nona
dan lu ju sonde kanal beta
Mungkin beta sonde parnah tau,
Itu rindu pung rasa ke karmana.
dan kalo beta ju son parnah lia lu
Mungkin be son parnah tau kalau pagi pung indah tu ke karmana..
Apa lai matahari pung rasa ke apa

Kalo sa beta sonde parnah kanal lu nona
Apa lai sampe jatoh cinta deng lu
Pasti be son tau itu rindu yang bagaru dihati tu  ke karmana

Be rindu lu pung sanyum yang manis ke sirup ABC tu
tambah lai deng lu pung rambut kariting yang salalu suruh beta beli bawa vitamin
Beta rindu lu pung muka yang manis ke lemon cina
Betaa rindu lu pung apa lai ko...Pokoknya beta rindu mati samua yang ada di lu nona 
Rindu yang sakarang tagantong di be pung hati ni
Su tatanam ba batu mangan hanya buat lu sayang 
sampe su malele, ba becek sa 

Kalo beta bisa bikin bandungan sa
Pasti beta su bikin  sama ke di tilong atau yang ada di raknamo
Biar tampung itu samua rindu ko bisa pake siram itu bunga cinta
Yang beta su tanam di lu pung hati

Beta su coba pel buang lu pung bayangan
Di beta pung  hari-hari hidop
Tapi yang be rasa.. Kalo be lia lu pung foto profil di facebook itu
Be mo makan  anteru-anteru saaa...
Biar ko lu salalu dekat di be pung hati...

Rabu, 09 November 2016

Bumi Makin Sekarat

Jika para pemimpin militer mengubah dunia dengan senjata dan para ilmuwan dengan temuan baru, lalu  apa yang kita perbuat.............? Mungkin  kita  cukup dengan  pena  kita menulis untuk pengubah dunia.
Jadi bukan hal yang tidak mungkin jika kita mencegah bahkan mengobati kerusakan/persoalan dengan sebuah tulisan. Michael Crichton menyatakan “Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda gagal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik, teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya.” Tulisan adalah sebuah karya, jadi tulisan juga memicu sebuah inspirasi, bukankan sebuah inspirasi jugalah yang mampu merubah dunia. Jadi mari menulis untuk merubah kebiasaan dunia untuk melindungi kesatuan bangsa kita.

"Jangan mengambil apapun kecuali gambar, Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, Jangan membunuh apapun kecuali waktu"
             Sangat masuk akal memang jika kita merenungkan tiga kalimat di atas. Hakikat dari seorang pecinta sejati adalah orang yang mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri , dalam artian menjaga keutuhan bangsa,  dan tidak merusaknya. Akan tetapi fakta bicara lain. Hampir di setiapdaerah  selalu saja nilai-nilai luhur bangsa yang telah ditanam oleh pahlawan-pahlawan kita semakin terkikis. Hal ini menimbulkan berbagai persoalan dan pertikaian.  Lalu di mana bukti rasa cinta kita terhadap jasa para pahlawan kita?
Tentu tidak adil jika kita hanya menghakimi para pembuat masalah maupun kegaduhan sebagai pelaku dari kotornya keadaan, sementara kita sendiri hanya mampu melihat dan tak berbuat apa-apa. Mencintai dan melestarikan nilai dari sebuah perjuangan bangsa oleh para ksatria yang gugur dimedan pertempuran  bukan sekedar menikmati keindahannya sebagai konsumsi pribadi, tapi lebih sebagai kepedulian untuk mempertahankannya sampai kapanpun.
Bumi semakin sekarat. Panasnya bumi terasa menyengat dan membakar, cuaca sulit diprediksi, bencana tidak kunjung henti melanda dan terus berulang dan tidak kunjung berhenti, hutan semakin rusak dan semakin terkikis, manusia, satwa serta tumbuh-tumbuhan kian sulit bertahan secara berlanjut. Semua makhluk hidup di bumi dihadapkan dengan berbagai tantangan dan persoalan terkait keadaan bumi kita saat ini yang sakit akut akibat perbuatan dan perilaku manusia.
Refleksi, perbuatan nyata dan berbagai langkah menjadi pilihan. Fakta dan realita saat ini, manusia semakin tidak bersahabat dengan sesamanya demikian juga manusia berprilaku dengan keadaan. Sadar atau tidak sadar sikap dan perilaku kita terhadap bangsa menunjukkan ketidakserasian lagi, penghargaan bagi para pahlawan mulai memudar. Manusia semakin sulit untuk menghargai adat, budaya dan tradisi yang sedikit banyak memiliki andil. Banyak fakta yang menjadi contoh nyata yang menggambarkan bangsa kita mengalami sakit parah, semakin sekarat akibat perilaku-perilaku manusia yang kelihatan dan tidak kelihatan.
Perilaku manusia yang semakin sulit untuk bersahabat dengan dirinya sendiri bahkan terhadap sesama terlihat jelas ketika manusia sudah tidak bijaksana dan tidak peduli lagi dengan perjuangan para pahlawan kita. Tak heran lagi jika semakin menumpuk/bertambahnya masalah/pertikaan menjadi tanda semakin berkurangnya kesadaran manusia. Sehingga tidak jarang kalau pertikaian selalu saja tidak terlepas dari kehidupan manusia

Jumat, 26 Agustus 2016

Pemilik Air Mata

Seutas kata dalam kisah kehidupan
Menjadi  senandung  penyayat hati  
Hasrat menyingkapkan tabir keraguan 
Akan cinta di ladang hati

Kemarau hati terguyur sudah 
Di hembus angin terseret arus
Kucoba berkaca pada jejak yang ada
Hanya coretan dinding jiwa

Tatkala getar-getar bibir hayat

Tak lagi bisa mengungkap rasa
Sepotong hati Bertanya slalu
Siapakah Pemilik air mata ini?