Ayah.....dihamparan sawah buah tanganmu itu, disana kita bersama menjaring
senja yang merambat cerita hingga menyentak mimpiku yang tersandar pada kenangan bahkan
tersimpan sejuta impian melintasi samudera dengan perahu harapan menuju pulau
impian.
Ayah....ditepi sisi pematang sawah kau tuturkan cinta para leluhur yang begitu manis ketika berucap lantunan syair pemuja di jantung tanah tandus.
Katamu...kini engkau telah lelah dan engkau membutuhkan sebuah
perahu membawa takdir untuk berlayar menuju senja yang tersebutkan segala rasa yang membungkusi hikayat bara sehari bersama sujud luruh dalam pujipuja.
Dan Sebagai suguhan terakhir dari darimu, ayah...kini masih jelas teringiang ditelingaku Nasehatmu terucap dengan makna yang tak kupahami. Meskipun demikian aku harus bisa berbesar hati untuk mengiklaskan.
Ayah....Aku tak mau membungkus luka lalu yang indah saja yang aku suguhkan padamu. Tapi ayahpun harus tahu kalau diperjalanan kita dimusim lalu tak cukup bagiku untuk mendengar canda tawa dan semua cinta kasihmu padaku. Ayah....Aku sangat merindukanmu.
Ayah.....Memang lukaku ini bukan lagi dukamu, tapi engkaupun tahu kalau kesumat rindu terus membara membakar jiwa kami anak-anakmu yang selalu berharap disuatu waktu nanti disaat saat aku terbangun di pagi hari, engkau selalu ada disampingku dan membisikan Nasehatmu, walaupun hanya sepatah kata, kuingin mendengarnya lagi.
Aku masih tetap berharap kalau engkau akan datang kepadaku, meskipun itu hanyalah sejauh mimpi bahkan disuatu kehidupan lain sekalipun, ayah dapat menemukan jalan pulang dan kembali kepadaku,. menyapaku, bercerita tentang leluhur kita dan aku mendapatkan kembali cinta ku yang hilang.
Meskipun
demikian setetes air mata ini, tak mau aku jadikan alasan agar engkau tetap ada
di sampingku,...karena aku tahu ayah adalah yang terhebat dalam hidupku.
Selamat Hari Ayah untukmu dialam Sang Pemilik Jiwa.

















