Tatkala rinai gerimis menjejaki coklatnya tanah mengisyaratkn takaran warna dalam kisah perjalanan mengumpulkan kilauan embun, dari padang tandus, taman kepedihan dan tinggi gunung harapan.
Dari taman mimpi terbawa arus terseret badai gelombang masa lalu
Ketika semua insan mengagumi gelombang cintamu, kau tempatkn aku pada kegetiran hatimu.Aku bukanlah laut yg pasang surut
bukan pula ombak yg menerjang semua penghalang
Benar juga katamu kalau aku hanyalah serpihan karang yg tumbang dalam bimbang.
Dari taman mimpi pulau harapan, kuberceloteh senandung rindu meski telah kutahu hujan kemarin telah mnghapus jejakku dihatimu.
Tiada lagi mutiara peluluh rindu
Lalu sepotong hati bertanya
Apakah aku harus menghancurkan Masa Kini sambil MENGKHAWATIRKAN Masa Depan, lalu MENANGIS di Masa Depan dengan Mengingat Masa lalu..?


0 komentar
Posting Komentar