Mohon Maaf apabila apa yang saya tampilkan dalam keadaan apa adanya saya usahakan tampil sederhana demi perubahan yang sederhana. Maka saya memulainya dengan cara sederhana

Senandung Cinta Di Pulau Timor

siapakah gerangan yang merajut senja diujung cinta untuk rembulan masa lalu yang melintasi musim yang terus gerganti melewati garis-garis tangan dipangkuan pertiwi sebelum kita sampai juga pada kesejukan yang selalu memberi kami kehausan dari gelas para pecinta.

Akhir Sebuah Perjalanan

Beningnya air matamu itu kini menjadi telaga kesedihan dalam hatiku yang terluka

Untuk Sebuah Nama

Seperti rintik hujan yang masih membekas diremangnya air danau batur,seperti itu pula sakitku yang masih terasa.

Kita Pernah Begitu Dekat

Perasaan cinta yang kita renda saban hari,Akhirnya gugur perlahan namun pasti sarupa daun kering yang berserakan disepanjang jalan adisucipto.

Beta Anak Kupang

Nikmatilah pemandangan indah pada malam hari di sepanjang trotoar jalan El Tari Kupang sambil makan jagung bakar diiringi lagu Bae Sonde Bae Tanah Timor Lebe Bae.

Tentang Kau dan Aku

Setetes air mata ini tak mau aku jadikan alasan agar engkau tetap ada di sampingku.

Catatan Pak Tani

Sekiranya kita takan menjadi buta ketika melihat kesalahan orang lain namun berada dalam terang saat melihat kesalahan diri.

Minggu, 07 September 2014

Senandung Sunyi

Kuarungi samudra cintamu yang sunyi
Meski ku tahu itu tak bertepi
Ku selami hatimu dengan senandung cinta
Meski ku tahu tiada lagi mutiara peluluh rindu

Di tengah samudra cintamu yang sunyi
Aku tenggelam di paug hatimu
Aku tersesat dialam cintamu yang berkabut
Terseret badai cintamu yang mendera

Di tepi pantai biru cintamu itu
Kutitipkan luka berharap kau mengobatinya
Tapi Karang dilautpun menangis sendu
Melihatku terus berharap

Hatiku yang dulu bagai cadas karang
Hancur terkikis badai cintamu
Satu cerita yang memang ada 
Tak mungkin mati jelas abadi

Rabu, 03 September 2014

Untuk Sebuah Nama

Ada saat dimana aku ingin meraih kembali suatu masa penuh manisnya janji yang sempat kau ucap padaku lima belas  tahun yang lalu. Dan ada saat dimana ku ingin mengulang semua yang terbaik bersamamu, saat dimana kita merajut kebersamaan  dengan indah dan hangat.
Aku tahu, kalau engkau baru saja kehilangan seseorang yang kamu cintai dan hatimu masih terluka saat aku datang dan mencoba  mengisi hari-harimu dengan apa adanya cintaku. Kitapun semakin dekat, Kebersamaan kita kian merekah. Bahkan kedekatan kita seolah membuat iri bagi insan lain.
Kedekatan kita dimulai dari sebuah bangku sekolah, saat dimana hati kita masing-masing mencari apa itu makna dari sebuah cinta. Saat dimana perasaan kita begitu peka dengan tajamnya rasa cinta. Dari situlah aku mengenal dirimu, sosok seorang gadis yang selalu hadir dalam setiap ingatanku. Seorang  pribadi yang sangat sombong, angkuh dan jutek. Aku paham,..mungkin itu karena hatimu pernah dilukai oleh kaumku sehingga merubah kepribadianmu.
Memang engkau tak pernah berceritra tentang masa lalu mu bersamanya, tapi aku tahu perasaanmu saat itu.
Aku tahu, waktu itu banyak teman-teman ku mencoba mendekati dirimu, tapi tak satupun mampu merebut hatimu. Itulah yang membuat  aku sering ragu untuk mendekatimu.
      Makin lama aku memendam rasa, semakin lama pula aku merasa tersiksa. Akhirnya dengan berjuta keraguan dihati, aku memberanikan  diriku untuk menyatakan cintaku padamu.
Aku tak menyangka, engkau menyambut cintaku. Aku sungguh tak menyangka kalau semua itu akan terjadi. Engkaupun bertanya, mengapa  aku mencintaimu…? Memang itu adalah suatu pertanyaan yang sangat sulit bagi ku, tapi jujur kukatakan kalau aku mencintaimu karena tak ada lagi orang lain yang bisa menggantikan dirimu di hatiku.
Akupun bertanya,…apa yang engkau lihat dariku, sehingga dari sekian banyak teman, engkau menempatkan aku sebagai teman paling spesial di hatimu,..? katamu,… kalau segala sikapku padamu, sudah lebih dari cukup mewakili  segala kata-kata yang terucap.
waktupun terus berlalu hingga Tiga tahun tak terasa kau dan aku melewati semua suka dan duka perjalanan cinta kita. Masing-masing kita sudah menggenggam ijazah. Banyak rencana hidup yang kita rancang untuk masa depan. Aku ingin melanjutkan pendidikan kebangku kuliah sementara engkau memilih untuk mencari kerja. Itu karena orangtua mu tak punya cukup uang untuk kuliah. Aku tak bisa apa-apa….aku hanya bisa terharu memandangmu. Perlahan engkau menyandarkan kepalamu di bahuku, tanpa terasa air matamu menetes. Kau memintaku berjanji untuk setia  mencintai dan menyayangimu. Yah….di simpang jalan itu, kita mengekalkan janji. Sebuah janji untuk saling setia mencintai dan menyayangi, Namun  tak terduga semuanya, kalau disimpang jalan itupula adalah akhir dari semua cerita cinta kita.
Tanpa terasa, tiga tahun sudah aku mengenyam pendidikan dan selama tiga tahun itupun aku selalu saja menempatkan waktuku untuk mencarimu. Akupun terus mencari dan setiap saat aku melewati simpang jalan itu, jalan dimana terakhir kali kutuliskan namamu dan namaku diatas pasir putih,…hembusan angin menyeretnya pergi dan menghapus semua jejak kita seiring bulatan matahari yang tak sempurnah lagi.
Hatiku tersirami embun kebahagian, ketika sepucuk surat kau kirimkan lewat temanmu Margaret. Namun kebahagiaan itu hilang seketika tatkala kubaca isinya. Hatiku yang dulu bagai cadas karang ,kini telah rapuh serapuh dermaga cintamu melabuhkan cintaku. Aku telah jatuh tersungkur hilang cahaya cintamu,…namun kau tetap tersimpan dalam relung hati, meski cintamu padaku telah merobek sukmaku
Dengan penuh kesabaran dihati, aku memberanikan diri mendatangi rumah tantemu dimana dulu engkau tinggal, karena hanya tempat itu yang pernah engkau beritahukan padaku. Namun setiap kali aku datang, selalu saja aku mendapat jawaban yang tak pasti,….hingga suatu ketika, aku bertemu dengan sepupumu. Ia berceritera banyak tentang dirimu kalau sebenarnya engkau pergi ke pulau dewata untuk mencari pekerjaan disana.
Tanpa berpikir panjang, aku mencarimu disana meski saat itu aku sendiri tidak tahu pasti alamatmu.
Dengan bermodalkan ijazah Diploma, aku mencari pekerjaan di kota itu guna membiayai hari-hariku. Namun semua itu, tak mudah seperti apa yang kubayangkan. Enam bulan lamanya aku terus mencari tapi semua usahaku sia-sia. Akhirnya dengan sisa uang disaku, aku memutuskan untuk kembali kekota karang. Tapi,…Sungguh tak kuduga,…Tuhan membuka jalan bagiku. Saat itu aku bertemu dengan bapak Dwi Kadek Andika,  yang begitu baik padaku. Aku bercerita tentang tujuanku lalu Ia mengajak aku tinggal bersamanya. Aku tak ada pilihan.
Awalnya aku hanya berdiam dirumah bersama anak-anaknya, tapi seminggu kemudian ia membawaku ketemannya dan disana aku mendapat kerja di Balai Benih Induk sebagai tenaga penyuluh pertanian di desa Songan-Kintamani.
      Disela-sela kesibukanku, aku selalu menempatkan waktuku diakhir pekan untuk mencari dirimu di kota, tapi aku sesalu gagal menemukanmu. Dua tahun lamanya aku bekerja disana, dua tahun aku mencarimu, dua tahun pula aku menahan rasa sakit dihati. Seperti rintik hujan yang masih membekas diremangnya air danau batur,  seperti itu pula sakitku yang masih terasa.
      Aku tak menyangka, kalau kasih sayang dan kesetiaan yang kutorehkan diatas lapangnya hati, yang telah ku jaga sekian lama tahun,  kau hancurkan begitu saja tanpa ada sedikit  rasa dihatimu. Ingin rasanya aku membenci dirimu karena janji manismu itu. Tapi untuk  apa lagi? semuanya telah terjadi,  Engkau tahu telah kuberikan ketulusan yang tiada pamrih. Tapi kau membalasnya dengan kebohonganmu. Kau hadirkan dia di saat aku teramat sangat mengharapkanmu.. Tega nian semua harus kau tancapkan duri yang kini melahirkan luka tak terperih. 
      Masa kontrak kerjaku berakhir, selama dua tahun itupun aku putuskan untuk kembali dengan harapan bisa bertemu dirimu di kota karang nanti. itupun hanyalah sisa-sisa harapan di penghujung rinduku.  malah kenyataannyapun aku masih terluka.
Untuk mengisi hari-hariku yang ku anggap terbuang begitu saja, aku melanjutkan pendidikanku kejenjang strata satu. banyak tugas dan tanggung jawab yang mesti aku selesaikan, tapi itu tak menghalangi diriku untuk menyisihkan waktu luang untuk mencari dirimu lagi.  
Perjalananku begitu panjang, tapi tak sepanjang kesabaranku menantimu kembali. Tajamnya kerikil yang menghujam langkahku di setiap liku-likunya jalan yang kulalaui tak melebihi luka yang kurasa. Seiring waktu berlalu, luka hatiku sedikit di terobati dengan hadirnya seseorang yang selalu menemaniku sampai kini,....Meskipun demikian, aku telah berjanji untuk menyayangimu  seumur hidupku.
Memang ku akui, ada rasa sakit yg tak kau rasa, yang tak bisa ku tahan tapi aku harus tegar berdiri, karena kau pernah ada untukku, mengisi hari-hariku dengan cinta dan kasih sayangmu…..
Terima kasih karena kau pernah ada dihatiku, memberikanku suatu kenangan yang tak mungkin kudapati dari orang lain……
Terima kasih karena engkau pernah mencintaiku……. 

Tentang Kau dan Aku

Aku bangga mengenal dirimu. meski itu kini hanya sebuah impian semusim. 
Terima Kasih karena engkau masih mau menjadi sahabat baikku… Aku bersyukur, sangat bersyukur walaupun engkau telah mengkhinati cintaku, tapi aku masih setia menunggu bahkan tetap menyayangimu…yang aku sesalkan, mengapa engkau tak menyadari akan semua itu.
Aku sungguh sangat menyesal, sangat-sangat menyesal……kalau engkau telah menyia-nyiakan kasih sayangku tanpa pamrih untukmu.
Maafkanlah aku, kalau Kesetiaanku Kini Menyiksa Hatimu Dari Waktu Kewaktu.
Bukankah telah aku katakan kalau aku telah memaafkanmu sebelum engkau meminta itu dariku.???
Ku Akui, Ada rasa kehilangan yang sangat saat kau tak ada dalam waktu ku. Perasaan rindu mulai menghuni relung kalbuku. namun janji manis yang kau ucapkan musim semi tahun kemarin, terasa sakit,dan itu tiba-tiba menyusup di hatiku.
Dipundakmu ingin kubagi duka ini, namun tatkala mimpi itu berakhir aku sadari kalau tak cukup hanya dengan CINTA,..karena ketika cinta harus memilih, ada dua banyangan dalam satu cermin. 
Dihatimu kuingin berlabuh selama mungkin, dan itu bukan impian semusim,..tapi kini cintaku telah kau lupakan hingga aku hanya bisa melantunkan sesal.
Setetes air mata ini, tak mau aku jadikan alasan agar engkau tetap ada di sampingku,...namun ika engkau sahabat baikku, semestinya engkau ada tanpa aku harus memintanya.