Ada saat dimana aku ingin meraih kembali suatu masa penuh manisnya
janji yang sempat kau ucap padaku lima belas tahun yang lalu. Dan ada
saat dimana ku ingin mengulang semua yang terbaik bersamamu, saat dimana kita
merajut kebersamaan dengan indah dan hangat.
Aku tahu, kalau engkau baru saja kehilangan seseorang yang kamu
cintai dan hatimu masih terluka saat aku datang dan mencoba mengisi
hari-harimu dengan apa adanya cintaku. Kitapun semakin dekat, Kebersamaan kita
kian merekah. Bahkan kedekatan kita seolah membuat iri bagi insan lain.
Kedekatan kita dimulai dari sebuah bangku sekolah, saat dimana
hati kita masing-masing mencari apa itu makna dari sebuah cinta. Saat dimana
perasaan kita begitu peka dengan tajamnya rasa cinta. Dari situlah aku mengenal
dirimu, sosok seorang gadis yang selalu hadir dalam setiap ingatanku. Seorang
pribadi yang sangat sombong, angkuh dan jutek. Aku paham,..mungkin itu
karena hatimu pernah dilukai oleh kaumku sehingga merubah kepribadianmu.
Memang engkau tak pernah berceritra tentang masa lalu mu
bersamanya, tapi aku tahu perasaanmu saat itu.
Aku tahu, waktu itu banyak teman-teman ku mencoba mendekati
dirimu, tapi tak satupun mampu merebut hatimu. Itulah yang membuat aku
sering ragu untuk mendekatimu.
Makin lama aku memendam rasa, semakin lama
pula aku merasa tersiksa. Akhirnya dengan berjuta keraguan dihati, aku
memberanikan diriku untuk menyatakan cintaku padamu.
Aku tak menyangka, engkau menyambut cintaku. Aku
sungguh tak menyangka kalau semua itu akan terjadi. Engkaupun bertanya,
mengapa aku mencintaimu…? Memang itu adalah suatu pertanyaan yang sangat
sulit bagi ku, tapi jujur kukatakan kalau aku mencintaimu karena tak ada lagi
orang lain yang bisa menggantikan dirimu di hatiku.
Akupun bertanya,…apa yang engkau lihat dariku,
sehingga dari sekian banyak teman, engkau menempatkan aku sebagai teman paling
spesial di hatimu,..? katamu,… kalau segala sikapku padamu, sudah lebih dari
cukup mewakili segala kata-kata yang terucap.
waktupun terus berlalu hingga Tiga tahun tak terasa kau dan aku
melewati semua suka dan duka perjalanan cinta kita. Masing-masing kita sudah
menggenggam ijazah. Banyak rencana hidup yang kita rancang untuk masa depan.
Aku ingin melanjutkan pendidikan kebangku kuliah sementara engkau memilih untuk
mencari kerja. Itu karena orangtua mu tak punya cukup uang untuk kuliah. Aku
tak bisa apa-apa….aku hanya bisa terharu memandangmu. Perlahan engkau
menyandarkan kepalamu di bahuku, tanpa terasa air matamu menetes. Kau memintaku
berjanji untuk setia mencintai dan menyayangimu. Yah….di simpang jalan
itu, kita mengekalkan janji. Sebuah janji untuk saling setia mencintai dan
menyayangi, Namun tak terduga semuanya, kalau disimpang jalan itupula
adalah akhir dari semua cerita cinta kita.
Tanpa terasa, tiga tahun sudah aku mengenyam pendidikan dan selama
tiga tahun itupun aku selalu saja menempatkan waktuku untuk mencarimu. Akupun
terus mencari dan setiap saat aku melewati simpang jalan itu, jalan dimana
terakhir kali kutuliskan namamu dan namaku diatas pasir putih,…hembusan angin
menyeretnya pergi dan menghapus semua jejak kita seiring bulatan matahari yang
tak sempurnah lagi.
Hatiku tersirami embun kebahagian, ketika sepucuk surat kau
kirimkan lewat temanmu Margaret. Namun kebahagiaan itu hilang seketika tatkala
kubaca isinya. Hatiku yang dulu bagai cadas karang ,kini telah rapuh serapuh
dermaga cintamu melabuhkan cintaku. Aku telah jatuh tersungkur hilang
cahaya cintamu,…namun kau tetap tersimpan dalam relung hati, meski cintamu
padaku telah merobek sukmaku
Dengan penuh kesabaran dihati, aku memberanikan diri mendatangi
rumah tantemu dimana dulu engkau tinggal, karena hanya tempat itu yang pernah
engkau beritahukan padaku. Namun setiap kali aku datang, selalu saja aku
mendapat jawaban yang tak pasti,….hingga suatu ketika, aku bertemu dengan
sepupumu. Ia berceritera banyak tentang dirimu kalau sebenarnya engkau pergi ke
pulau dewata untuk mencari pekerjaan disana.
Tanpa berpikir panjang, aku mencarimu disana meski saat itu aku
sendiri tidak tahu pasti alamatmu.
Dengan bermodalkan ijazah Diploma, aku mencari pekerjaan di kota
itu guna membiayai hari-hariku. Namun semua itu, tak mudah seperti apa yang
kubayangkan. Enam bulan lamanya aku terus mencari tapi semua usahaku sia-sia.
Akhirnya dengan sisa uang disaku, aku memutuskan untuk kembali kekota karang.
Tapi,…Sungguh tak kuduga,…Tuhan membuka jalan bagiku. Saat itu aku bertemu
dengan bapak Dwi Kadek Andika, yang begitu baik padaku. Aku bercerita
tentang tujuanku lalu Ia mengajak aku tinggal bersamanya. Aku tak ada pilihan.
Awalnya aku hanya berdiam dirumah bersama anak-anaknya, tapi
seminggu kemudian ia membawaku ketemannya dan disana aku mendapat kerja di
Balai Benih Induk sebagai tenaga penyuluh pertanian di desa Songan-Kintamani.
Disela-sela kesibukanku, aku selalu menempatkan
waktuku diakhir pekan untuk mencari dirimu di kota, tapi aku sesalu gagal
menemukanmu. Dua tahun lamanya aku bekerja disana, dua tahun aku mencarimu, dua
tahun pula aku menahan rasa sakit dihati. Seperti rintik hujan yang
masih membekas diremangnya air danau batur, seperti itu pula sakitku yang
masih terasa.
Aku tak menyangka, kalau kasih sayang dan
kesetiaan yang kutorehkan diatas lapangnya hati, yang telah ku jaga sekian lama
tahun, kau hancurkan begitu saja tanpa ada sedikit rasa dihatimu.
Ingin rasanya aku membenci dirimu karena janji manismu itu. Tapi untuk
apa lagi? semuanya telah terjadi, Engkau tahu telah kuberikan
ketulusan yang tiada pamrih. Tapi kau membalasnya dengan kebohonganmu. Kau
hadirkan dia di saat aku teramat sangat mengharapkanmu.. Tega nian semua harus
kau tancapkan duri yang kini melahirkan luka tak terperih.
Masa kontrak kerjaku berakhir, selama dua
tahun itupun aku putuskan untuk kembali dengan harapan bisa bertemu dirimu di
kota karang nanti. itupun hanyalah sisa-sisa harapan di penghujung
rinduku. malah kenyataannyapun aku masih terluka.
Untuk mengisi hari-hariku yang ku anggap terbuang begitu saja, aku
melanjutkan pendidikanku kejenjang strata satu. banyak tugas dan tanggung jawab
yang mesti aku selesaikan, tapi itu tak menghalangi diriku untuk menyisihkan
waktu luang untuk mencari dirimu lagi.
Perjalananku begitu panjang, tapi tak sepanjang kesabaranku
menantimu kembali. Tajamnya kerikil yang menghujam langkahku di setiap
liku-likunya jalan yang kulalaui tak melebihi luka yang kurasa. Seiring waktu
berlalu, luka hatiku sedikit di terobati dengan hadirnya seseorang yang selalu
menemaniku sampai kini,....Meskipun demikian, aku telah berjanji untuk
menyayangimu seumur hidupku.
Memang ku akui, ada rasa sakit yg tak kau rasa, yang tak bisa ku
tahan tapi aku harus tegar berdiri, karena kau pernah ada untukku, mengisi
hari-hariku dengan cinta dan kasih sayangmu…..
Terima kasih karena kau pernah ada dihatiku, memberikanku suatu
kenangan yang tak mungkin kudapati dari orang lain……
Terima kasih karena engkau pernah mencintaiku…….


0 komentar
Posting Komentar