Mohon Maaf apabila apa yang saya tampilkan dalam keadaan apa adanya saya usahakan tampil sederhana demi perubahan yang sederhana. Maka saya memulainya dengan cara sederhana

Senandung Cinta Di Pulau Timor

siapakah gerangan yang merajut senja diujung cinta untuk rembulan masa lalu yang melintasi musim yang terus gerganti melewati garis-garis tangan dipangkuan pertiwi sebelum kita sampai juga pada kesejukan yang selalu memberi kami kehausan dari gelas para pecinta.

Akhir Sebuah Perjalanan

Beningnya air matamu itu kini menjadi telaga kesedihan dalam hatiku yang terluka

Untuk Sebuah Nama

Seperti rintik hujan yang masih membekas diremangnya air danau batur,seperti itu pula sakitku yang masih terasa.

Kita Pernah Begitu Dekat

Perasaan cinta yang kita renda saban hari,Akhirnya gugur perlahan namun pasti sarupa daun kering yang berserakan disepanjang jalan adisucipto.

Beta Anak Kupang

Nikmatilah pemandangan indah pada malam hari di sepanjang trotoar jalan El Tari Kupang sambil makan jagung bakar diiringi lagu Bae Sonde Bae Tanah Timor Lebe Bae.

Tentang Kau dan Aku

Setetes air mata ini tak mau aku jadikan alasan agar engkau tetap ada di sampingku.

Catatan Pak Tani

Sekiranya kita takan menjadi buta ketika melihat kesalahan orang lain namun berada dalam terang saat melihat kesalahan diri.

Jumat, 03 September 2021

Hujan Kemarin

Tatkala rinai gerimis menjejaki coklatnya tanah mengisyaratkn takaran warna dalam kisah perjalanan mengumpulkan kilauan embun, dari padang tandus, taman kepedihan dan tinggi gunung harapan.

Dari taman mimpi terbawa arus terseret badai gelombang masa lalu

Ketika semua insan mengagumi gelombang cintamu,  kau tempatkn aku pada kegetiran hatimu.
Aku bukanlah laut yg pasang surut
bukan pula ombak yg menerjang semua penghalang
Benar juga katamu kalau aku hanyalah serpihan karang yg tumbang dalam bimbang.

Dari taman mimpi pulau harapan, kuberceloteh senandung rindu  meski telah kutahu hujan kemarin telah mnghapus jejakku dihatimu.
Tiada lagi mutiara peluluh rindu
Lalu sepotong hati bertanya
Apakah aku harus menghancurkan Masa Kini sambil MENGKHAWATIRKAN Masa Depan, lalu MENANGIS di Masa Depan dengan Mengingat Masa lalu..?