
Kawan........kapan-kapan datanglah ketempat asalku, dan akan ku bawa dirimu mengitari bumi tempat dimana para leluhurku mengukir cinta dan pengorbanan pada dinding kenangan yang bersemayam dari reruntuhan musim.
Kalau engkau datang janganlah menolak ketika kusuguhkan padamu sirih pinang yang kami namakan snack herbal sebagai pembuka kata, pemanis bibir pertanda ungkapan selamat datang ditanah moyangku. Ijinkan aku untuk bisa manjakan rasamu dalam tatapan kering matahari telanjang di pelataran bumi Nusa Cendana, lalu kita mengalir seirama air Oenesu dan Oehala yang dicampurkan dalam seduhan gelas minuman sopi diiringi kicau burung bersahutan.
Kawan.....dihamparan pasir putih pantai Tablolong disana kita bersama menjaring senja yang merambat cerita kita menyentak mimpi yang tersandar pada kenangan dan di pesisir pantai Teres juga akan tersimpan sejuta impian melintasi samudera dengan perahu harapan menuju pulau impian.

Pantai Kolbano
Kawan.....ditepi pantai Kolbano akan kau temukan batu tiga warna dan sesekali akan kau lihat juga segerombolan hiu putih bermain ombak. Dan Nanti akan ku puaskan dahagamu dengan secawan Sopi yang kami sebut Tua Nakaf Insana juga sepiring Bose dan Se’i ditambah dengan Luat. lalu biar penatmu terusir oleh Gerombolan Buaya putih, atau sekumpulan kelelawar juga rusa putih dan dapat pula kau bawa pulang segumpal garam dari asinnya air laut Menifon pantai selatan.

Gunung Lakaan
Kawan....Disini juga akan kuperkenalkan dirimu pada Dewa Dewi Cinta di puncak Gunung Mutis dan Gunung Lakaan juga kepada para leluhur ku yang begitu manis ketika berucap lantunan syair pemuja di jantung tanah tandus rumahku. Biarlah kita berhenti sejenak sambil menikmati Keindahan Lembah Fulan Fehan yang Eksotis. Sesekali akan kau lihat kawanan kuda yang bebas berkeliaran, pohon kaktus yang tumbuh subur dan hamparan padang sabana yang memanjakan rasa. Kawan....kalau nanti engkau letih biarlah kita melepas dahaga dengan secangkir susu dari Kolam Susu. Maaf kawan ini hanyalah kolam yang menginspirasi lagu Kolam Susu group musik Koes Plus. Memang kami punya kolam yang memang tampak putih seperti susu tapi sayang susu terlampau mahal untuk kami beli.

Benteng Ranu Hitu
Kawan...ku ingin juga memperkenalkan padamu tentang sebuah tempat dimana lahirnya suatu pengorbanan leluhur kami. Mungkin terdengar begitu ekstrim ditelingamu, tapi semua itu akan terusir ketika bunyi tambur yang diiringi para gadis sambil menari likurai, tebe dan bonet disepanjang jalan menuruni rumah-rumah adat menuju tempat puja dan puji bagi leluhur kami di Benteng Ranu Hitu atau Benteng Lapis Tujuh di puncak Bukit Makes. Disitulah para leluhur kami mengukir kisah perjuangan. Disanalah akan kau lihat barisan Bukit Batu Mandemu peninggalan bersejarah yang nampak tegar berdiri cadas karang seakan menjadi simbol ketegaran hati kami di tanah kering rumah kami.

Teluk Gurita
Kawan, jika rasamu tak lagi bersahabat, biarlah kita menggapai senja di Teluk Gurita yang saat ini menjadi sebuah dermaga sambil menghayal tentang kokohnya sebuah ikatan persahatan antara kau dan aku. Namun jika hatimu masih bisa merengkuh perjalanan ini, mari kita lanjutkan perjalanan menuju Pantai Wemasa. Pantai berpasir hitam yang mungkin tidak indah tapi perjalanan itu tetaplah indah, sebab yang indah tidaklah tempat tapi dari sisi mana kita melihatnya. Dari dekat akan kau lihat sekumpulan bocah menjajakan jasa sebagai penarik perahu bagi mereka yang hendak turun melaut.
Kawan...Mungkin juga kita membutuhkan sebuah perahu membawa takdir untuk berlayar menuju senja yang tersebutkan segala rasa, yang membungkusi hikayat bara sehari bersama sujud luruh dalam pujipuja. Sebagai suguhan terakhir dari perjalanan kita nanti, akan kubawa dirimu pada sebuah perkampungan tua yang kami sebut perkampungan Suku Boti. Menurut Pieter Middelkoop menyebut kami (People Of The Dry Land) atau Atoni Pah Meto kurang lebih yang berarti: penduduk, orang atau manusia-dari tanah kering. Disana akan kau pelajari bagaimana kita belajar mencintai alam dan masih banyak keunikan yang akan kau dapati disana.

Kawan....Aku tak mau membungkus luka lalu yang indah saja yang aku suguhkan padamu. Tapi engkaupun harus tahu diperjalanan kita nanti akan kau temukan lubang-lubang jalanan yang menganga dan gubuk-gubuk tua yang hanya diterangi lentera sepanjang yang kau kira. Tapi itu belum cukup kawan....Nanti kalau sempat, di tapal batas akan kau lihat pula betapa asingnya anak dinegeri Nusantara. Itu bukan karena mereka tak punya apa-apa, atau mereka tak punya cukup makan bahkan bukan pula mereka tak mau untuk melangkah pergi, tetapi kertaspun tak sanggup menulis api sejarah yang lahir di rahim malam. Bahkan dedaunanpun turut berdo’a dibalik kesunyian malam, menanti getah kerinduan yang ada di atap rumah sang pujaan yang terdiam di jiwa oleh suka dan kesumat cinta. Disini akan kau renungkan siapakah gerangan yang merajut senja diujung cinta untuk rembulan masa lalu yang melintasi musim yang terus gerganti melewati garis-garis tangan dipangkuan pertiwi sebelum kita sampai juga pada kesejukan yang selalu memberi kami kehausan dari gelas para pecinta.

Suku Boti
Kawan.....tak heran kalau nantinya engkau merasa bosan dengan jauhnya jalan yang penuh belubang dan gelapnya malam tanpa listrik ataupun hanya sedikit air pelepas dahaga, karena memang itu saja yang ada padaku. Nanti akan kau lihat juga sekumpulan anak gembala yang kembali mengiring ternak menuruni bukit bebatuan, sesekali akan kau dengar lantunan syair-syair lagu kebangsaan. Jelas tertangkap sepotong lirik merdeka, merdeka....memang mereka tak paham apa sesunggunya arti dari sepenggal kata itu, yang pastinya seolah melempar duka pada setiap luka yang terus menhujam diladang jiwa seakan tak ada lagi kesejukan dibalik bukit itu.

Desa Noepesu_TTU
Kalau ada yang bilang sumber air sudah dekat, itu memang benar, kalau hanya sedekat berucap kata. Dan kalau masih ada yang bilang jalan ditanahku sudah terlihat bagus, itu memang benar kalau hanya sebagus mata memandang. jika ada lagi yang bilang terangnya listrik menembusi kegelapan malam di setiap deretan rumah-rumah kami, memang benar, kalau itu hanyalah terang-terangan.
Kawan...itu belum seberapa yang akan kau lihat. Karena aku tak mau nanti engkau tak mau datang lagi didaerahku.
Sebenarnya aku ingin membawamu melihat rumah-rumah sekolah kami biar engkau tahu betapa nasib tak berpihak, namun cukupkanlah hatimu dengan beberapa saja. Tapi janganlah kawan mengira bahwa kami tak bisa bersaing dalam dunia ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Nanti engkau akan mendengar dan melihat sendiri kehebatan kami bersaing didaerahmu.
Kawan.... kalau nanti engkau akan kembali kekotamu, akan kuberikan padamu sepotong kayu kering yang tak wangi lagi. Maafkan aku kawan....Seandainya engkau datang lebih awal, mungkin kau akan dapati wanginya kayu kering itu, namun sangat disayangkan kalau semua itu hanya tinggal kisah dari cerita tua. Sebuah hikayat tentang kokohnya tanah moyangku yang dipenuhi dengan dengan wewangian kayu cendana yang

Pohon Cendana
melegenda sampai pelosok bumi, sampai begitu banyak orang mendatangi tanah kami untuk melakukan perdagangan yang hanya meninggalkan luka tak terperih. Maaf kawan...karena diperjalanan kita tak lagi kau temukan jajaran pohon cendana seperti sebuah naskah catatan perjalanan yang ditulis oleh Wang Da Yuan yang berjudul Daoyi Chi Lue pada 1350 yang menyebutkan bahwa di wilayah Timor tidak tumbuh pohon lainnya selain Pohon cendana.
Kawan.....Memang luka kami bukan dukamu, tapi perlu engkaupun tahu bahwa kesumat cinta terus membara membakar jiwa kami anak-anak dinegeri Nusa cendana dan aku berharap suatu saat ketika engkau datang lagi, dapat kau bawa pulang wanginya cendana dalam sejumput senyum diwajahmu. Selamat jalan kawan. dan jika sampai dikotamu nanti, kumohon janganlah engkau menceritakan yang indah yang pernah engkau temui ditanah kami tapi ceritakan saja sedanya selama kita masih bersama.
Teriring salam Sapu Rata dari kami Atoin Pah Meto di TIMOR

Kawan.....dihamparan pasir putih pantai Tablolong disana kita bersama menjaring senja yang merambat cerita kita menyentak mimpi yang tersandar pada kenangan dan di pesisir pantai Teres juga akan tersimpan sejuta impian melintasi samudera dengan perahu harapan menuju pulau impian.
![]() |
| Pantai Kolbano |
![]() |
| Gunung Lakaan |
![]() |
| Benteng Ranu Hitu |
![]() |
| Teluk Gurita |
Kawan...Mungkin juga kita membutuhkan sebuah perahu membawa takdir untuk berlayar menuju senja yang tersebutkan segala rasa, yang membungkusi hikayat bara sehari bersama sujud luruh dalam pujipuja. Sebagai suguhan terakhir dari perjalanan kita nanti, akan kubawa dirimu pada sebuah perkampungan tua yang kami sebut perkampungan Suku Boti. Menurut Pieter Middelkoop menyebut kami (People Of The Dry Land) atau Atoni Pah Meto kurang lebih yang berarti: penduduk, orang atau manusia-dari tanah kering. Disana akan kau pelajari bagaimana kita belajar mencintai alam dan masih banyak keunikan yang akan kau dapati disana.
![]() |
| Suku Boti |
![]() |
| Desa Noepesu_TTU |
Kawan...itu belum seberapa yang akan kau lihat. Karena aku tak mau nanti engkau tak mau datang lagi didaerahku.
Sebenarnya aku ingin membawamu melihat rumah-rumah sekolah kami biar engkau tahu betapa nasib tak berpihak, namun cukupkanlah hatimu dengan beberapa saja. Tapi janganlah kawan mengira bahwa kami tak bisa bersaing dalam dunia ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Nanti engkau akan mendengar dan melihat sendiri kehebatan kami bersaing didaerahmu.
![]() |
| Pohon Cendana |
Teriring salam Sapu Rata dari kami Atoin Pah Meto di TIMOR



