Kini engkau tersenyum,…!!
Yah,..sebuah bibir merah merekah seperti bunga yang hendak mekar
menebarkan keharumannya yang tak asing wewangiannya yang tak pernah tertangkap indera penciumanku.
Ah,…Wewangian yang engkau tebarkan, seolah mengundang kaki
kumbang-kumbang jalang untuk segera bertandang diatas kelopakmu yang indah.
Aku,…akulah kumbangmu,…
kumbang yang
setiap fajar mengepak-ngepakan sayapnya yang gelisah…..karena aku tak ingin
kumbang lain mendekatimu…….Aku percaya seutuhnya padamu,…kepercayaanku padamu
bagai bangau pengelana yang pulang juga bila menjelang senja. Dengan sebuah
harapan semoga kegetiran takan menerpa mahligai cinta yang telah kita bina
sekian lama…….bukankah begitu sayang,..?
Semoga…..yah….semoga kemesraan dan keindahan cinta yang telah kita
torehkan bersama diatas lapangnya hati,…akan selalu terjaga putihnya cinta
kita.
Engkau
tahu,…bahwa saat ini, engkau telah tertanam di hatiku. Dan kembali mengangkat
aku pada aroma kerinduan yang amat dalam.setelah sekian lama terkubur.
Purnama kini
kembali terlihat karena telah terusir oleh kelam, embun pagi mulai berkilau,
ilai memerah kembali terlihat menghiasi panorama dengan dengan semburatnya yang
indah,….lentera hati kembali bersinar, cicit burungpun kembali terdengar
menyambut cerianya hatiku.
Yah,….kurasa kegelapan
kini telah terusir sudah,….kelampun telah menghilang.
Aku tahu,..bahwa engkau mencintaiku….namun dibalik denting bola matamu masih
tersimpan sekelumit keraguan yang dalam….
Meski demikian, hari-haripun kita lalu bersama,…. sementara aku
selalu berharap agar cerianya hari-hari kita tetap terjaga.
Sepucuk surat kau
kirimkan untukku,…singkat namun jelas tertulis bahwa “Engkau mencintaiku,… tapi cinta kita
belum bisa diartikan sebagai tumpuan kedamaian dalam hidup…sebab cinta itu
sendiri sering membuahkan ketidakberdayaan. Satu pintamu yang masih jelas
terngiang ditelingaku bahwa
“Dermaga Cintamu telah Rapuh tuk
Melabuhkan Cintaku”.
Carilah
pengganti diriku yang nantinya akan selalu mencintai dan menemanimu, janganlah
engkau mengharapakan aku lagi,…itulah
sepenggal kata yang masih jelas kuingat.
Semilir angin
penghabisan menerpa pepohonan, bunga
jatuh dari kelopaknya,… kelopak itu terlepas dari daunnya,…. dedaunan kini berguguran
dari rantingnya, ranting yang kering itu jatuh dari dahannya, dahannyapun patah
dari batangnya,…. batang itu tumbang dari akarnya dan…..akar-akar itu masih
terkubur dalam tanah yang gersang,…hingga akar itupun rapuh dan tak mungkin
tumbuh lagi.
Yah,…engkau telah
patahkan hatiku. Rasa cintaku padamu kini terkubur dalam-dalam dihati yang
tandus karena kemarau asmaramu telah berlalu, yang tak mungkin kembali lagi.
Sejenak aku teringat,….. sebuah simpang jalan yang ditumbuhi
pepohonan lontar,…dari situlah dimulainya sebuah kisah antara kau dan aku
dimana terakhirkali kita bertemu. Saat-saat dimana terakhir kali kulihat senyum
diwajahmu, dan saat-saat dimana cinta dan kasih sayangku mengiringi langkahmu
kedalam pelukan orang lain.
Dengan erat kau dekap tubuhku,..dan perlahan air matamu mengalir
dipipi. “Beningnya air matamu itu justru
kini menjadi telaga kesedihan dalam jiwaku yang terluka”
kataku…menangislah selagi
engkau bisa menangis, sebab air mata adalah wujud suci dari perasaan insan yang
terluka” namun engkau tak peduli. Engkau terus menangis seakan tak mau berhenti.
Itupun saat-saat dimana terakhir kali kulihat engkau menangisi diriku.
Sungguh,……….sedikitpun
aku tak menyadari,…kalau semua senyum dan air matamu itu adalah awal dari
kemarau panjang dalam kegersangan hatiku, dan akhir dari sebuah cerita cintaku
yang indah.
Kini aku kembali menyimpan sebuah kesedihan dari kisah
ketidakberdayaan yang menimpa diriku…..
Perlahan engkau
mencoba tuk tersenyum padaku, namun yang kulihat hanyalah sebuah
senyuman……yah….sebuah senyuman terakhir yang tak seindah hari-hari kita
sebelumnya.
Yah,…Indahnya kembang yang pernah ada begitu mekar dalam taman
hatiku harus patah dan gugur bahkan layu dan musnah seiring bulatan matahari
yang tak sempurnah lagi.
Dengan segenggam harapan aku terus bertahan dalam sebuah
ketidakberdayaan yang kian terpampang dalam bingkai kecemasan
hatiku….kebimbangan selalu hadir mengoyak hati, hingga selalu mengaiskan
berjuta kehampaan…..
Aku hanya bisa menengadah,…dan kepada langit aku katakan bahwa
meskipun ia tetap membisu,…namun ia adalah satu-satunya saksi abadi atas semua
janji yang terucap di simpang jalan itu.
Disimpang jalan itu aku
menemukanmu dan disitu pula engkau meninggalkanku.
Waktupun kian bergulir,…. hingga tak terasa lima belas Tahun sudah
kita tak pernah bertemu. Perjalanankupun begitu panjang dan sangat
melelahkan…..
Aku
…….aku…..memang masih dalam perjalanan dan mencoba menemukan sosok pribadi yang
ku cari,…Bukan tempat berteduh, tapi tempat melabuhkan lapangnya hati ini.
Sungguh,........Aku sangat menyesal, karena disaat aku menemukanmu kembali, ternyata engkau tak sendiri lagi.
Aku
tak menyangka,….sungguh tak pernah menduga, kalau Kerikil - kerikil di simpang jalan itu, ternyata terlalu tajam
menghujam langkah ku hingga terlalu dalam luka yang harus kutanggung setelah
melewati perjalanan yang begitu panjang dan melelahkan.
Aku hanya bisa melukisakan kisah
kita kalau kita begitu sangat dekat,…bahkan
teramat dekat. Bukankah demikian………..? kita memang sangat dekat. Seperti udara
yang kita hirup, dan seperti air yang kita minum. Bahkan kedekatan kita, selalu
menimbulkan rasa iri dan cemburu bagi insan lain.
Kita sangat dekat……Hanya patut
disayangkan kau terlalu cepat pergi sebelum kedekatan kita membuahkan sesuatu seperti
yang aku harapkan.
Bahkan,….perasaan
cinta yang kita renda saban hari akhirnya gugur perlahan, sarupa daun-daun
kering yang berserakan di sepanjang
jalan adisucipto.
Aku
paham,..itu bukan salah mu ataupun salah ku, bahkan bukan karena takdir. Tapi
aku takut, bila jalan adisucipto yang rindang dengan hijaunya pohon lontar yang
berjajar itu juga teringat akan dirimu, kalau kita pernah berteduh dibawahnya sambil
berkhayal tentang kokohnya ikatan cinta kita.
Kita
memang teramat dekat,….Tapi mana tahu, kalau aku hanya bisa pandai berkhayal
dan tak sanggup mewujudkannya.
Empat tahun lamanya kita bersama, menempuh
suka dukanya perjalanan cinta kita, bahkan rangkaian waktu yang relative
menurut einstein “bisa berarti lama dan bisa pula terlampau singkat” Satu
penyebabnya jelas,…bahwa aku belum bisa
mewujudkan sebuah kenyataan yang menimpaku.
Kita
sangat begitu dekat….teramat dekat…namun kini,..bisa mengingatmu dan memiliki
bayangmu sudah cukup indah dan sangat berarti diperjalananku.
Tak
sadar hatiku bertanya,…Adakah rentang
waktu yang begini panjang,……masihkah mengekalkan rasa cintamu padaku…? Rindupun
kau pada ku, masihkah salalu hadir seperti bilangan hari-hari kita
sebelumnya……?
Ah,….mungkin
itu mimpi terbesarku dalam hidup…. Mimpi yang tak mungkin menjadi nyata. Sebab jelas
telah kulihat kenyataan itu, bahwa dermaga cintamu telah melabuhkan sebuah hati
yang selalu mencintaimu.
Sejenak
ku bertanya dalam hati,…………”Bila didunia
ini masih ada cinta tanpa pamrih,………mungkinkah kamu adalah orangnya…?” ku
mohon,…..janganlah engkau Tanya akan kesetiaan ku pada dirimu….sebab aku telah
berjanji untuk selalu menyayangi dirimu selamanya. Dan kesetiaan bukan untuk
dirangkai menjadi sebuah kata yang indah, namun dilakukan dengan
semestinya,…dan itu lebih dari cukup kulakukan untuk dirimu.
Engkau tahu,….???
Saat Aku terbangun di pagi hari, Aku sangat berharap
bahwa engkau ada disampingku berbisik padaku tentang cinta kita, walaupun
hanya sepatah kata, kuingin mendengarnya lagi.
aku kembali menanti saat aku sedang terjaga, tetapi
itu tak kunjung jua. Meskipun demikian,… aku terus menanti dengan sabar
sepanjang hari.
Dan aku
masih tetap berharap kalau engkau akan datang kepadaku, meskipun itu
hanyalah sejauh mimpi.
Kembali aku menanti dengan sabar dan telah
bersabar lebih lama dari yang engkau sadari
Namun engkau masih belum menyadari kalau aku
sangat menyayangi mu bahkan rasa cintaku padamu begitu dalam,….bahkan disetiap
hari-hariku, aku terus dan terus menantikan kehadiranmu,..namun itu tak kunjung
tiba….Meskipun demikian,… kuingin engkau tahu,…bahwa aku selalu mengasihimu,
dan aku tetap berharap suatu saat bahkan disuatu kehidupan lain sekalipun, engkau
dapat menemukan jalan pulang dan kembali kepadaku,. menyapaku, bercerita
tentang cinta kita dan aku mendapatkan kembali cinta ku yang hilang.