Mohon Maaf apabila apa yang saya tampilkan dalam keadaan apa adanya saya usahakan tampil sederhana demi perubahan yang sederhana. Maka saya memulainya dengan cara sederhana

Senandung Cinta Di Pulau Timor

siapakah gerangan yang merajut senja diujung cinta untuk rembulan masa lalu yang melintasi musim yang terus gerganti melewati garis-garis tangan dipangkuan pertiwi sebelum kita sampai juga pada kesejukan yang selalu memberi kami kehausan dari gelas para pecinta.

Akhir Sebuah Perjalanan

Beningnya air matamu itu kini menjadi telaga kesedihan dalam hatiku yang terluka

Untuk Sebuah Nama

Seperti rintik hujan yang masih membekas diremangnya air danau batur,seperti itu pula sakitku yang masih terasa.

Kita Pernah Begitu Dekat

Perasaan cinta yang kita renda saban hari,Akhirnya gugur perlahan namun pasti sarupa daun kering yang berserakan disepanjang jalan adisucipto.

Beta Anak Kupang

Nikmatilah pemandangan indah pada malam hari di sepanjang trotoar jalan El Tari Kupang sambil makan jagung bakar diiringi lagu Bae Sonde Bae Tanah Timor Lebe Bae.

Tentang Kau dan Aku

Setetes air mata ini tak mau aku jadikan alasan agar engkau tetap ada di sampingku.

Catatan Pak Tani

Sekiranya kita takan menjadi buta ketika melihat kesalahan orang lain namun berada dalam terang saat melihat kesalahan diri.

Rabu, 06 November 2013

Penantian



Andaikan rasa ini tak pernah ada
Serpihan kerinduanpun mungkin takan hadir 
Mengoyak jiwa yang terkulai

Rasa hati t
ak lagi berpalung
Harapanpun tak jua berujung
Dalam penantian panjang

Aku bukanlah laut yang bisa pasang surut
Bukan pula ombak yang bisa menerjang semua penghalang
Aku hanyalahserpihan karang y
ang tumbang dalam bimbang

Bisakah engkau merengkuh lagi hatiku
Wahai insan yang slallu aku nantikan,..???



Jumat, 27 September 2013

Nyayian Jiwa

Dahulu kau biarkan aku berlabuh di hatimu
Kau biarkan aku bersandar di dermaga cintamu,
Namun dermaga itu telah rapuh
Yang Kau tinggalkan kebahagian semu
Kau patahkan hatiku yang telah rela menyayangimu tanpa batas
Kau memilih ceraikan cintaku dari hatimu,
Aku tetap berharap untuk selalu ada untukmu
Walau sekejap ijinkan aku hadir dalam bayangmu
Menyelimuti dirimu dengan cinta yang masih tersimpan,..

Ketika engkau terjaga nanti, biarlah sekuntum mawar merah menyapamu
Lalu Seekor merpati putih mengangguk memberi syalam padamu
Dan ia akan bercerita padamu tentang aku,..kalau aku masih menantimu dengan cinta dan kasih sayang yang masih sama.




Minggu, 20 Januari 2013

Akhir Sebuah Perjalanan


Kini engkau tersenyum,…!!
Yah,..sebuah bibir merah merekah seperti bunga yang hendak mekar menebarkan keharumannya yang tak asing wewangiannya yang tak pernah  tertangkap indera penciumanku.
Ah,…Wewangian yang engkau tebarkan,           seolah mengundang kaki kumbang-kumbang jalang untuk segera bertandang diatas kelopakmu yang indah.
Aku,…akulah kumbangmu,…
kumbang yang setiap fajar mengepak-ngepakan sayapnya yang gelisah…..karena aku tak ingin kumbang lain mendekatimu…….Aku percaya seutuhnya padamu,…kepercayaanku padamu bagai bangau pengelana yang pulang juga bila menjelang senja. Dengan sebuah harapan semoga kegetiran takan menerpa mahligai cinta yang telah kita bina sekian lama…….bukankah begitu sayang,..?
Semoga…..yah….semoga kemesraan dan keindahan cinta yang telah kita torehkan bersama diatas lapangnya hati,…akan selalu terjaga putihnya cinta kita.
Engkau tahu,…bahwa saat ini, engkau telah tertanam di hatiku. Dan kembali mengangkat aku pada aroma kerinduan yang amat dalam.setelah sekian lama terkubur.
Purnama kini kembali terlihat karena telah terusir oleh kelam, embun pagi mulai berkilau, ilai memerah kembali terlihat menghiasi panorama dengan dengan semburatnya yang indah,….lentera hati kembali bersinar, cicit burungpun kembali terdengar menyambut cerianya hatiku.
Yah,….kurasa kegelapan kini telah terusir sudah,….kelampun telah menghilang.
Aku tahu,..bahwa engkau mencintaiku….namun dibalik denting bola matamu masih tersimpan sekelumit keraguan yang dalam….
Meski demikian, hari-haripun kita lalu bersama,…. sementara aku selalu berharap agar cerianya hari-hari kita tetap terjaga.
Sepucuk surat kau kirimkan untukku,…singkat namun jelas tertulis  bahwa “Engkau mencintaiku,… tapi cinta kita belum bisa diartikan sebagai tumpuan kedamaian dalam hidup…sebab cinta itu sendiri sering membuahkan ketidakberdayaan. Satu pintamu yang masih jelas terngiang ditelingaku bahwa
 Dermaga Cintamu telah Rapuh tuk Melabuhkan  Cintaku”.
Carilah pengganti diriku yang nantinya akan selalu mencintai dan menemanimu, janganlah engkau mengharapakan aku lagi,…itulah sepenggal kata yang masih jelas kuingat.
Semilir angin penghabisan  menerpa pepohonan, bunga jatuh dari kelopaknya,… kelopak itu terlepas dari daunnya,…. dedaunan  kini  berguguran dari rantingnya, ranting yang kering itu jatuh dari dahannya, dahannyapun patah dari batangnya,…. batang itu tumbang dari akarnya dan…..akar-akar itu masih terkubur dalam tanah yang gersang,…hingga akar itupun rapuh dan tak mungkin tumbuh lagi.
Yah,…engkau telah patahkan hatiku. Rasa cintaku padamu kini terkubur dalam-dalam dihati yang tandus karena kemarau asmaramu telah berlalu, yang tak mungkin kembali lagi.
Sejenak aku teringat,….. sebuah simpang jalan yang ditumbuhi pepohonan lontar,…dari situlah dimulainya sebuah kisah antara kau dan aku dimana terakhirkali kita bertemu. Saat-saat dimana terakhir kali kulihat senyum diwajahmu, dan saat-saat dimana cinta dan kasih sayangku mengiringi langkahmu kedalam pelukan orang lain.
Dengan erat kau dekap tubuhku,..dan perlahan air matamu mengalir dipipi. “Beningnya air matamu itu justru kini menjadi telaga kesedihan dalam jiwaku yang terluka”
kataku…menangislah selagi engkau bisa menangis, sebab air mata adalah wujud suci dari perasaan insan yang terluka” namun engkau tak peduli. Engkau terus menangis seakan tak mau berhenti. Itupun saat-saat dimana terakhir kali kulihat engkau menangisi diriku.
Sungguh,……….sedikitpun aku tak menyadari,…kalau semua senyum dan air matamu itu adalah awal dari kemarau panjang dalam kegersangan hatiku, dan akhir dari sebuah cerita cintaku yang indah.
Kini aku kembali menyimpan sebuah kesedihan dari kisah ketidakberdayaan yang menimpa diriku….. 
Perlahan engkau mencoba tuk tersenyum padaku, namun yang kulihat hanyalah sebuah senyuman……yah….sebuah senyuman terakhir yang tak seindah hari-hari kita sebelumnya.
Yah,…Indahnya kembang yang pernah ada begitu mekar dalam taman hatiku harus patah dan gugur bahkan layu dan musnah seiring bulatan matahari yang tak sempurnah lagi.
Dengan segenggam harapan aku terus bertahan dalam sebuah ketidakberdayaan yang kian terpampang dalam bingkai kecemasan hatiku….kebimbangan selalu hadir mengoyak hati, hingga selalu mengaiskan berjuta kehampaan…..
Aku hanya bisa menengadah,…dan kepada langit aku katakan bahwa meskipun ia tetap membisu,…namun ia adalah satu-satunya saksi abadi atas semua janji yang terucap di simpang jalan itu.
Disimpang  jalan itu aku menemukanmu dan disitu pula engkau meninggalkanku.
Waktupun kian bergulir,…. hingga tak terasa lima belas Tahun sudah kita tak pernah bertemu. Perjalanankupun begitu panjang dan sangat melelahkan…..
Aku …….aku…..memang masih dalam perjalanan dan mencoba menemukan sosok pribadi yang ku cari,…Bukan tempat berteduh, tapi tempat melabuhkan lapangnya hati ini.
Sungguh,........Aku sangat  menyesal, karena disaat  aku menemukanmu kembali, ternyata  engkau tak sendiri lagi.
Aku tak menyangka,….sungguh tak pernah menduga, kalau Kerikil - kerikil di simpang jalan itu, ternyata terlalu tajam menghujam langkah ku hingga terlalu dalam luka yang harus kutanggung setelah melewati perjalanan yang begitu panjang dan melelahkan.
Aku hanya bisa melukisakan kisah kita kalau  kita begitu sangat dekat,…bahkan teramat dekat. Bukankah demikian………..? kita memang sangat dekat. Seperti udara yang kita hirup, dan seperti air yang kita minum. Bahkan kedekatan kita, selalu menimbulkan rasa iri dan cemburu bagi insan lain.
Kita sangat dekat……Hanya patut disayangkan kau terlalu cepat pergi sebelum kedekatan kita membuahkan sesuatu seperti yang aku harapkan.
Bahkan,….perasaan cinta yang kita renda saban hari akhirnya gugur perlahan, sarupa daun-daun kering yang berserakan di sepanjang  jalan adisucipto.
Aku paham,..itu bukan salah mu ataupun salah ku, bahkan bukan karena takdir. Tapi aku takut, bila jalan adisucipto yang rindang dengan hijaunya pohon lontar yang berjajar itu juga teringat akan dirimu, kalau kita pernah berteduh dibawahnya sambil berkhayal tentang kokohnya ikatan cinta kita.
Kita memang teramat dekat,….Tapi mana tahu, kalau aku hanya bisa pandai berkhayal dan tak sanggup mewujudkannya.
Empat tahun lamanya kita bersama, menempuh suka dukanya perjalanan cinta kita, bahkan rangkaian waktu yang relative menurut einstein “bisa berarti lama dan bisa pula terlampau singkat” Satu penyebabnya jelas,…bahwa  aku belum bisa mewujudkan sebuah kenyataan yang menimpaku.
Kita sangat begitu dekat….teramat dekat…namun kini,..bisa mengingatmu dan memiliki bayangmu sudah cukup indah dan sangat berarti diperjalananku.
Tak sadar hatiku bertanya,…Adakah rentang waktu yang begini panjang,……masihkah mengekalkan rasa cintamu padaku…? Rindupun kau pada ku, masihkah salalu hadir seperti bilangan hari-hari kita sebelumnya……?
Ah,….mungkin itu mimpi terbesarku dalam hidup…. Mimpi yang tak mungkin menjadi nyata. Sebab jelas telah kulihat kenyataan itu, bahwa dermaga cintamu telah melabuhkan sebuah hati yang selalu mencintaimu.
Sejenak ku bertanya dalam hati,…………”Bila didunia ini masih ada cinta tanpa pamrih,………mungkinkah kamu adalah orangnya…?”  ku mohon,…..janganlah engkau Tanya akan kesetiaan ku pada dirimu….sebab aku telah berjanji untuk selalu menyayangi dirimu selamanya. Dan kesetiaan bukan untuk dirangkai menjadi sebuah kata yang indah, namun dilakukan dengan semestinya,…dan itu lebih dari cukup kulakukan untuk dirimu.
Engkau tahu,….???
Saat Aku terbangun di pagi hari, Aku sangat berharap bahwa engkau ada disampingku berbisik padaku tentang cinta kita, walaupun hanya sepatah kata, kuingin mendengarnya lagi.
aku kembali menanti saat aku sedang terjaga, tetapi itu tak kunjung jua. Meskipun demikian,… aku terus menanti dengan sabar sepanjang hari.
Dan aku  masih tetap berharap kalau engkau akan datang kepadaku, meskipun itu hanyalah sejauh mimpi.
Kembali aku menanti dengan sabar dan telah bersabar lebih lama dari yang engkau sadari
Namun engkau masih belum menyadari kalau aku sangat menyayangi mu bahkan rasa cintaku padamu begitu dalam,….bahkan disetiap hari-hariku, aku terus dan terus menantikan kehadiranmu,..namun itu tak kunjung tiba….Meskipun demikian,… kuingin engkau tahu,…bahwa aku selalu mengasihimu,
dan aku tetap berharap suatu saat  bahkan disuatu kehidupan lain sekalipun, engkau dapat menemukan jalan pulang dan kembali kepadaku,. menyapaku, bercerita tentang cinta kita dan aku mendapatkan kembali cinta ku yang hilang.