Mohon Maaf apabila apa yang saya tampilkan dalam keadaan apa adanya saya usahakan tampil sederhana demi perubahan yang sederhana. Maka saya memulainya dengan cara sederhana

Senandung Cinta Di Pulau Timor

siapakah gerangan yang merajut senja diujung cinta untuk rembulan masa lalu yang melintasi musim yang terus gerganti melewati garis-garis tangan dipangkuan pertiwi sebelum kita sampai juga pada kesejukan yang selalu memberi kami kehausan dari gelas para pecinta.

Akhir Sebuah Perjalanan

Beningnya air matamu itu kini menjadi telaga kesedihan dalam hatiku yang terluka

Untuk Sebuah Nama

Seperti rintik hujan yang masih membekas diremangnya air danau batur,seperti itu pula sakitku yang masih terasa.

Kita Pernah Begitu Dekat

Perasaan cinta yang kita renda saban hari,Akhirnya gugur perlahan namun pasti sarupa daun kering yang berserakan disepanjang jalan adisucipto.

Beta Anak Kupang

Nikmatilah pemandangan indah pada malam hari di sepanjang trotoar jalan El Tari Kupang sambil makan jagung bakar diiringi lagu Bae Sonde Bae Tanah Timor Lebe Bae.

Tentang Kau dan Aku

Setetes air mata ini tak mau aku jadikan alasan agar engkau tetap ada di sampingku.

Catatan Pak Tani

Sekiranya kita takan menjadi buta ketika melihat kesalahan orang lain namun berada dalam terang saat melihat kesalahan diri.

Minggu, 29 Maret 2015

CENDANA KU MALANG, KELOR KU SAYANG

Puluhan  bahkan  ratusan  tahun  yang  lalu, setiap  daerah  terkenal  dengan  julukan-julukan  tren  sesuai  kekhasan  daerah  tersebut..  Kegandrungan itulah merasuk setiap generasi penerus untuk menjuluki daerahnya  dengan kekhasan  yang  ada.  Seperti  pulau  Flores  dikenal  dengan  sebutan  pulau  Komodo, pulau Alor dikenal dengan sebutan pulau Kenari, dan pulau Timor dikenal dengan  sebutan  pulau  Wangi Cendana. 
Untuk mengangkat flora  identitas  Nusa Tenggara  Timur dipermukaan dunia, maka generasi  yang  ada  di  pulau Timorpun menamai satau-satunya sebuah Universitas Negeri yang dikenal dengan   Universitas Nusa Cendana. Namun sangat disayangkan manakala perlahan namun  pasti bahwa kekhasan yang ada di Pulau Timor kini terancam punah.
Setiap  generasi terdahulu pasti ingin mengisahkannya lagi tentang sebuah  kejayaan negerinya dan setiap generasi masa kini sangat rindu akan kejayaan itu, naman mana tahu, kalau sebuah adigium dari negeri jiran berkata “Perjalanan yang bermil-mil, hanya ditentukan oleh satu langkah” mengingatkan kita kembali terhadap semua masalah-masalah yang telah terjadi baik itu  tindakan kita maupun  kebijakan-kebijakan yang sudah terjadi dimasa lampau. Apa boleh buat, kalau aroma primadona itu tinggal sebuah kenangan yang mengisi cerita hikayat masa lampau untuk generasi masa kini.
Kini, ditengah gejolak kepunahan tanaman CENDANA yang dibanggakan itu, Tuhan memberikan lagi sebuah pohon emas,  yang uniknya pohon ini sudah sering dikonsumsi sejak turun temurun oleh masyarakat di pulau Timor yaitu  pohon KELOR atau dengan sebutan orang kupang “MARUNGGA”.
Mulai dari daunnya, lalu kulit batang, buah dan bijinya, telah diteliti oleh para pakar sejak tahun 1980. Organisasi kesehatan dunia WHO menobatkan pohon kelor sebagai miracle tree setelah melakukan penelitian dan mengetahui manfaat daun kelor lah yang berjasa sebagai penjaga kesehatan yang bisa didapatkan dengan harga murah selama 40 tahun pada negara-negara termiskin di dunia ini.

Kelor mengandung 40 antioksidan dan 90 jenis nutrisi berupa vitamin essensial, mineral, asam amino, anti penuaan, dan anti inflamasi. Kelor juga mengandung 539 senyawa yang dikenal dalam pengobatan tradisional di India dan Afrika serta telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mencegah lebih dari 300 penyakit.

Sebuah adigium yang berkata “Patah Tumbuh Hilang Berganti’ ternyata  sangat tepat untuk kondisi yang ada di Nusa Tenggara Timur,..mana kala pohon cendana yang sangat  dibanggakan itu tinggal cerita, maka hadirlah pohon kelor yang menjadi pohon ajaib bagi masyarakat di Timor.

Selasa, 24 Maret 2015

Kita Pernah Begitu Dekat

Kita begitu sangat dekat,.bahkan teramat dekat. Bukankah demikian…? 
Sahabat...!..Kita memang sangat dekat.
Seperti udara yang kita hirup, dan seperti air yang kita minum.
Bahkan kedekatan kita, selalu menimbulkan rasa iri dan cemburu bagi insan lain.

Kita sangat dekat,…
Namun sangat disayangkan, kalau engkau terlalu cepat pergi
Sebelum kedekatan kita membuahkan sesuatu Seperti yang kita harapkan bersama.

Sahabat…!..Perasaan cinta yang kita renda saban hari, Akhirnya gugur perlahan namun pasti sarupa daun kering yang berserakan di sepanjang  jalan adisucipto.
Aku paham,..itu bukan salahmu ataupun salahku, bahkan bukan karena takdir.
Tapi aku takut, bila jalan adisucipto yang rindang  dengan hijaunya pohon gamaline yang berjajar itu juga teringat akan kita, kalau kita pernah berteduh dibawahnya sambil berkhayal tentang kokohnya ikatan CINTA kita.

Kita teramat dekat….Sangat dekat Sayang..!!
Tapi mana tahu, kita hanya bisa pandai berkhayal tapi tak sanggup mewujudkannya.
Sahabat !,… Empat tahun lamanya kita bersama menempuh suka dukanya perjalanan hidup.
Rangkaian waktu yang relative menurut einstein “bisa berarti lama dan bisa pula terlampau singkat” Satu penyebabnya jelas,…bahwa  kita hanya bisa menerima sebuah kenyataan dari kisah ketidakberdayaan yang menimpa cinta kita

Sahabat….!
Andai saja Kota karang ini memiliki ratusan bahkan ribuan sekolah
Mungkin kita tak bertemu seperti itu.
Hingga rasa kangen ini takan terus menyiksa aku dari waktu kewaktu
Manakala aku harus melewati simpang jalan tempat antara kau dan aku mengekalkan janji.

Kita sangat begitu dekat….
Namun kini,..bisa mengingatmu dan memiliki bayangmu saat ini
Sudah cukup indah dan sangat berarti diperjalanan hidupku.
Karna engkau telah mengukir kisah yang tak dapat tergantikan

Sahabat….! Tapi aku sangsih,…..
Adakah rentang waktu yang begini panjang, Masih mengekalkan rasa kangen dan setiamu padaku…?
Rindupun kau pada ku, masihkah salalu hadir, Seperti bilangan hari-hari kita sebelumnya……?

Kamis, 29 Januari 2015

Pertanyaan sebuah Cinta


Setiap generasi terdahulu, pasti ingin mengisahkannya lagi tentang sebuah kisah lama yang penuh berjuta kenangan.
Dan setiap generasi masa kini, sangat rindu akan kisah itu.
Mungkin bukan hanya mendengar namun melihat akan sebuah kekuatan cinta sebab "Pedangpun takan sanggup memtuskan karena dengan kekuatan cinta pedang dapat di buat"

Air bisa menjalankan perahu dan bisa juga menenggelamkannya. begitupula kehidupan.
Suka dan duka pasti ada. semuanya adalah bumbu kehidupan.
Tapi, bisakah kita saling mencintai tanpa harus ada pertemuan, tanpa harus ada janji dan bahkan tanpa kebersamaan?
Sungguh kegagalan itu bagai hujan dan keberhasilan itu bagai matahari, namun butuh keduanya untuk bisa melihat pelangi.

Meski kita tahu bahwa ada alasan untuk kecewa tapi jadikanlah SABAR sebagai PERAHU dan IKHLAS sebagai DAYUNGnya dalam merangkul kebahagiaan.
karena suatu saat kita akan menemukan intan permata dari bongkahan batu yang terlihat begitu berat. 
Memory yang kita pahat pada dinding kenangan adalah rumah tempat kita kembali berteduh dari reruntuhan musim.