Mohon Maaf apabila apa yang saya tampilkan dalam keadaan apa adanya saya usahakan tampil sederhana demi perubahan yang sederhana. Maka saya memulainya dengan cara sederhana

Kamis, 11 November 2021

Senandung Rinduku Untukmu Ayah

Ayah........kapan-kapan datanglah, dan bawa aku mengitari bumi tempat dimana para leluhur mengukir cinta dan pengorbanan yang terpahat pada dinding kenangan. Nanti kalau ayah datang janganlah ayah murung melihatku, karena tanah pijak para leluhur sudah tak seindah waktu itu.

Ayah.....dihamparan sawah buah tanganmu itu, disana kita bersama menjaring senja yang merambat cerita hingga menyentak mimpiku yang tersandar pada kenangan bahkan tersimpan sejuta impian melintasi samudera dengan perahu harapan menuju pulau impian. 

Ayah....ditepi sisi pematang sawah kau tuturkan cinta para leluhur yang begitu manis ketika berucap lantunan syair pemuja di jantung tanah tandus. 

Katamu...kini engkau telah lelah dan engkau membutuhkan sebuah perahu membawa takdir untuk berlayar menuju senja yang tersebutkan segala rasa yang membungkusi hikayat bara sehari bersama sujud luruh dalam pujipuja.

Dan Sebagai suguhan terakhir dari darimu, ayah...kini masih jelas teringiang ditelingaku  Nasehatmu terucap dengan makna yang tak kupahami. Meskipun demikian aku harus bisa berbesar hati untuk mengiklaskan.  

Ayah....Aku tak mau membungkus luka lalu yang indah saja yang aku suguhkan padamu. Tapi ayahpun  harus tahu kalau diperjalanan kita dimusim lalu tak cukup bagiku untuk mendengar canda tawa dan semua cinta kasihmu padaku. Ayah....Aku sangat merindukanmu.

Ayah....
Nanti kalau sempat, datanglah padaku. Lihatlah aku yang terlihat begitu asing. Itu bukan karena apa-apa, tetapi biarlah aku sendiri yang tahu kalau kertaspun tak sanggup menulis api sejarah yang lahir di rahim malam. Bahkan dedaunanpun turut berdo’a dibalik kesunyian malam, menanti getah kerinduan yang ada di atap rumah sang pujaan yang terdiam di jiwa oleh suka dan kesumat cinta. 
Disini aku renungkan siapakah gerangan yang melempar duka pada setiap luka yang terus menhujam diladang jiwa seakan tak ada lagi kesejukan dibalik bukit itu.

Ayah.....Memang lukaku ini bukan lagi dukamu, tapi engkaupun tahu kalau kesumat rindu terus membara membakar jiwa kami anak-anakmu yang selalu berharap disuatu waktu nanti disaat saat aku terbangun di pagi hari, engkau selalu ada disampingku dan membisikan Nasehatmu, walaupun hanya sepatah kata, kuingin mendengarnya lagi.

Aku  masih tetap berharap kalau engkau akan datang kepadaku, meskipun itu hanyalah sejauh mimpi bahkan disuatu kehidupan lain sekalipun, ayah dapat menemukan jalan pulang dan kembali kepadaku,. menyapaku, bercerita tentang leluhur kita dan aku mendapatkan kembali cinta ku yang hilang.

Meskipun demikian setetes air mata ini, tak mau aku jadikan alasan agar engkau tetap ada di sampingku,...karena aku tahu ayah adalah yang terhebat dalam hidupku.

Selamat Hari Ayah untukmu dialam Sang Pemilik Jiwa. 

 

5 komentar

Unknown 11 November 2021 pukul 21.46

Trimakasih bapak syg....

Anonim
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Anonim

Tulisan yang menyentuh Hati. Terima kasih bapak ju

Unknown 17 Desember 2021 pukul 20.23

KenanganMu kami ingat sepanjang massa Bapak

Sang Pemuja 16 Oktober 2025 pukul 03.29

😭😭😭😭

Posting Komentar